Logo

Inovasi Teknologi IPAT-BO Tanam Padi Varietas Sidenuk di Kabupaten Kampar

Inovasi Teknologi IPAT-BO Tanam Padi Varietas Sidenuk  di Kabupaten Kampar

Riau - Sejak dirilis Mei 2011 lalu melalui SK. Menteri Pertanian No. 2257/Kpts/SR.120/2011, varietas padi Sidenuk “Si Dedikasi Nuklir” terus dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan Kemenristekdikiti dan Universitas Padjadjaran Bandung.

Sidenuk adalah hasil perbaikan dari varietas Diah Suci yang merupakan varietas hasil persilangan Cilosari dan IR 74 yang kemudian dimutasikan dengan cara iradiasi oleh BATAN.

Penanaman padi varietas unggul Sidenuk berbasis teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) mampu melipatgandakan hasil produksi padi di Kabupaten Kampar, Riau.

Dalam rangka hari kebangkitan teknologi nasional (HAKTEKNAS) KE 23, desa Pulau Tinggi kecamatan Kampar terpilih sebagai tempat percontohan penanaman padi varietas invari Sidenuk dengan metode IPAT BO (intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik) di Sumatera. Hadir dalam acara tersebut Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Staf Ahli bupati bidang ekonomi dan pembangunan, Kepala Bidang Litbang Prov Riau, Deputi kepala Batan, Kepala Desa pulau tinggi Kec.Kampar, para kepala badan/dinas kabupaten/kota berserta jajaran pemerintah kabupaten Kampar dan para kelompok tani selasa (15/05/2018).

Sidenuk diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Soalnya, satu hektare lahan bisa menghasilkan 9 hingga 12 ton padi, kata Dirjen penguatan inovasi kemenristekdikti, Dr Ir Jumain Appe MSi, Selasa (15/5/2018) di Pulau Tinggi.

Disampaikan, Kemenristekdikti saat ini terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membuat petani menjadi mandiri. Dimana sebelumnya menggantungkan teknologi asing sehingga mudah tergoncang.

Kita harus mampu mengembangkan sendiri, kreatifitas, berinovasi dan memiliki jiwa wira usaha dan berkelanjutan sangat perlu, terutama saat ini, jika tidak akan ketinggalan dengan bangsa lain, jelasnya.

Sementara, Dr Hendik Winarno (Deputi Batan), menyampaikan Benih Varietas Invari Sidenuk dilepas tahun 2011 lalu.

Dengan irigasi kurang baik saja, Varietas Sidenuk mampu menghasilkan 9 hingga 12 ton perhektare dengan waktu tanam selama 3 bulan.

Dikatakan, Varietas Sidenuk ini dinilai mampu meningkatkan produksi beras nasional, artinya, akan kembangkan ke seluruh Indonesia.

Selain lebih pulen, varietas ini juga memiliki umur yang lebih pendek. saat ini, pihaknya juga terus mengembangkan varietas yang lebih unggul. Terutama yang tahan terhadap serangan hama.

Diharapkan dengan tingkat produksi yang tinggi ini, target swasembada pangan Indonesia dapat tercapai 2019 nanti. Jika hal ini terwujud, Indonesia optimis swasembada pangan bisa tercapai

Bupati Kampar diwakili staf ahli bidang ekonomi dan pembangunan, Aliman Makmur menyampaikan, bahwa potensi pertanian khususnya persawahan di Kabupaten Kampar sangat besar, namun butuh inovasi dan dukungan alat pertanian modern.

Dikatakan, Kabupaten Kampar memiliki lahan persawahan seluas 5 ribu hektare lebih dengan produksi rata-rata 3-5 ton perhektar. Saat ini pembukaan lahan persawahan baru terus dilakukan.

Dengan Varietas Sidenuk mudah-mudahan dapat meningkatkan hasil produktifitas petani. Hal ini selain dapat membantu peningkatan perekonomian petani, juga dapat menciptakan dan mewujudkan swasembada pangan tahun 2019 sesuai harapan Bupati Kampar, ujar Aliman. Pekanbaru, - Kabupaten Kampar merupakan salah satu daerah yang melakukan Tanam Perdana, di Riau, dalam rangka perayaan Hakteknas ke-23 di Pekanbaru. Hal ini ditandai dengan dilaksanakannya tanam perdana Varietas Sidenuk dengan penerapan Teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) di Desa Pulau Tinggi Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Acara diawali tanam perdana, dilanjutkan dialog dan tanya jawab dengan kelompok tani dan masyarakat.

  

Sumber : Panitia Bakti Teknologi HAKTEKNAS 23

Prev Uji performan sapi lokal Sapi Sumba Ongole, Sapi Bali dan Peranakan Ongole
Next Download logo hakteknas
Hakteknas ke 23 (10 Agustus 2018)