Logo

Pemerintah Dorong Dua Ribu Start Up

Pemerintah Dorong Dua Ribu Start Up

BANDUNG-Pemerintah saat ini terus mendorong lahirnya banyak enterpreneur baru berbasis teknologi   atau yang lebih dikenal dengan pengusaha start up.  Diperkirakan ada dua ribu pengusaha start up di berbagai bidang yang terus berkembang dan diharapkan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Harapan ini disampaikan oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe, dalam sambutannya membuka ITB CEO NET X Technopreneurship Festival 2017 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB bekerjasama dengan Kemenristekdikti, Kamis 12 Oktober 2017 di Aula Barat Kampus  ITB Bandung.

ITB CEO NET X Technopreneurship Festival 2017  yang mengambil tema tentang “Kolaborasi membangun infrastruktur dan ekosistem inovasi” ini dihadiri sejumlah pelaku industri di bidang teknologi informaasi seperti dari Samsung, Ericson, PT Indusri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI), para peneliti di bidang teknologi dan masih banyak lagi pelaku di bidang inovasi pengembangan iptek.

Selain diisi seminar, acara ini juga memamerkan beberaapa hasil riset di bidang teknologi informasi, transportasi  dan pertahanan keamanan. Di bidang teknologi informasi dipamerkan beberapa temuan periset ITB seperti handphon Digicoop, smart cart, teknologi radar, BTS, alat ukur pemetaan lahan, pesawat tanpa awak yang bisa digunakan untuk pemantauan lahan dan lainnya. Sementara di bidang pertahanan keamanan dipamerkan berbagai jenis perlengkapan pertahanan keamanan seperti persenjataan dan sistem teknologi pertahanan.

Kemenristekdikti sendiri saat ini terus mendorong lahirnya pengusaha start up baru dengan memberikan berbagai fasilitas seperti pendanaan dan apresiasi lainnya. Khusus untuk pendanaan, Kemenristekdikti telah menganggarkan lebih dari 300 miliar untuk mendorong pengusaha start up baru. Bahkan, akhir Oktober 2017 ini, Dirjen Penguatan Inovasi akan mengumpulkan pengusaha pengusaha start up baru di Surabaya.

“Kami akan mendorong lebih cepat lagi pertumbuhan start up dengan lebih banyak mendengarkan dan membina mereka” jelasnya.

Jumain meyakini, Indonesia akan maju dengan didukung adanya inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, masuknya  bisnis berbasis teknologi sebagaimana ojek online, online shop dan semua aplikasi online dalam setiap transaksi tidak bisa dihindari dan harus segera diadopsi menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lebih lanjut Jumain menjelaskan bahwa  kampus harus bersinergi dengan industri dan pemerintah dalam mendorong penelitian untuk bisa  diterapkan di industri. Dengan cara demikian, hasil penelitian tidak hanya berhenti di tahap penelitian, namun benar benar bisa diaplikasikan dalam industri.

Ada lima prinsip inovasi agar mampu diterapkan dan menjadi bagian dari  industri yang maju. Pertama, inovasi harus didasarkan pada kreativitas, inovasi harus bersinergi dengan segala sektor, inovasi harus bisa bekerjasama atau berkolaborasi dengan semua lini, inovasi harus berprinsip  keterbukaan informaasi dalam rangka akuntabilitas dan inovasi harus ada kesetaraan.

“Dengan dasar itulah maka inovasi akan bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa,”  jelasnya.

Sementara itu, Pembantu Rektor IV ITB Prof. Dr. Ir. Bambang Riyanto Trilaksono sangat mendukung apa  yang disampaikan oleh Juman Appe terkait mendorong pengusaha strart up di Indonesia.  ITB sendiri saat ini membina 77 pengusaha start up di berbagai bidang teknologi. Mereka adalah para mahasiswa ITB yang mengembangkan keilmuannya di kampus untuk diterapkan dalam industri. Dan hasilnya, sebagian pengusaha strart up tersebut telah menjadi industri rintisan yang berhasil.

Smentara itu, Alfred Boediman PhD, dari Samsung R & D Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi negara maju dengan berbasis teknologi. Samsung sendiri yang berdiri sejak 75 tahun awalnya hanyalah perusahaan kecil dalam bidang kebutuhan rumah tangga. Kemudian pada 1991 mulai mengembangkan perangkat telekomunikasi handphon dan saat itu masih kalah jauh dibanding dengan Nokia, Ericson dan lainya. Namun dengan pengembangan riset dan development yang terus dilakukan akhirnya menghasilkan produk yang mampu berkompetisi di dunia dan saat ini menjadi pemain utama.

“Prinsipnya jika perusahaan dan negara ingin maju harus mengembangkan riset dahulu, Untuk itulah kami melakukan investasi besar di bidang R & D,’’ jelasnya. (HKLI)

Prev Uji performan sapi lokal Sapi Sumba Ongole, Sapi Bali dan Peranakan Ongole
Next Rapat Koordinasi dan Workshop Pengembangan Klaster Sistem Inovasi Berbasis PUD
Hakteknas ke 23 (10 Agustus 2018)