Logo

PENGUATAN INOVASI PERGURUAN TINGGI DI INDUSTRI

Latar Belakang

Komersialisasi hasil penelitian di perguruan tinggi (PT) di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya, bahkan di Asia Tenggara. Indonesia dinilai sebagai negara dengan urutan indeks inovasi nomor 87 dari 143 negara di dunia dalam tahun 2014 oleh Global Innovation Index. Kedudukan ini masih berada di bawah Singapura berada di peringkat 7, Malaysia peringkat 33, Thailand peringkat 48, dan Vietnam nomor 71; meskipun berada di atas Brunei Darussalam peringkat 88, Filipina peringkat 100, Kamboja peringkat 106 dan Myanmar peringkat 140. Disamping itu, dalam publikasi Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) mengenai ranking daya saing global (The Global Competitiveness Report) tahun 2014-2015, posisi Indonesia menempati peringkat 34 dari 144 negara. Di kawasan Asia Tenggara, peringkat Indonesia ini juga masih kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Menurut WEF, pilar pembentuk daya saing berdasarkan 12 kategori yakni institusi atau lembaga, infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berkontribusi terhadap peningkatan indeks dari pilar kelima (pendidikan dan pelatihan pendidikan tinggi), pilar kesembilan (kesiapan teknologi) dan pilar kedua belas (inovasi) dalam upayanya mendukung daya saing.

Komersialisasi hasil penelitian merupakan proses alih teknologi dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pengembangan dan perekayasa (litbangyasa) ke industri sampai terjadi proses produksi masal yang dijual di pasar dan memperoleh keuntungan baik bagi industri maupun bagi lembaga pemasok teknologi hasil penelitian. Untuk produk inovatif yang dapat dikomersialisasikan harus mempunyai Tingkat Kesiapan Teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) lebih besar dari 7 (TRL>7) dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi atau menyelesaikan permasalahan di industri. Aktivitas inovasi ini harus dikelola dengan baik untuk memaksimalkan proses komersialiasi dan mendapatkan keuntungan yang optimal. Proses alih teknologi ini juga dapat terlaksana dengan lancar apabila ekosistem usaha bersifat kondusif. Dengan demikian peran pemerintah merupakan peran kunci dalam komersialisasi hasil penelitian ke industri dalam bentuk membangun suatu ekosistem yang kondusif yang meliputi baik fisik seperti pembangunan infrastruktur, maupun kebijakan pendanaan; seperti penyediaan program pendanaan untuk hilirisasi atau komersialisasi hasil litbangyasa.

Dalam rangka membangun ekosistem usaha yang kondusif untuk komersialisasi hasil penelitian Perguruan Tinggi oleh industri, dan mendukung proses komersialisasi tersebut berjalan lancar, maka Kemenristekdikti mengalokasikan dana pendanaan untuk perguruan tinggi yang kemudian diharuskan untuk bermitra dengan para peniliti di Lembaga Pemerintah Kementerian (LPK)/ Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) serta industri untuk menghasilkan inovasi melalui program “Inovasi PerguruanPendanaanTinggiinijuga d merupakan instrumen kebijakan Kemenristekdikti untuk berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Landasan Hukum

Landasan hukum program ini adalah:

1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

2. Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang 2005–2025.

3. Undang–Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan.

5. Peraturan Presiden No. 13 tahun 2015 Tentang Kementerian, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

6. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 13 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Tahun 2015-2019.

Tujuan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi antara ABG (Academic-Business-Government) dalam kerangka komersialisasi hasil-hasil litbangyasa di Perguruan Tinggi. 1.4.

Luaran

Luaran yang ingin dicapai adalah industri berbasis teknologi yang menghasilkan produk inovasi Perguruan Tinggi.

 

Ruang Lingkup dan Definisi Program

Program pendanaan inovasi perguruan tinggi di industri adalah pendanaan yang diberikan kepada inovasi perguruan tinggi untuk komersialisasi hasil-hasil litbangyasa menjadi sebuah usaha/industri melalui skema konsorsium inovasi.

Konsorsium inovasi adalah kerjasama antara tiga atau lebih institusi yang dapat terdiri dari unsur perguruan tinggi, politeknik atau lembaga litbangyasa LPK/LPNK dan dunia usaha/industri yang bersepakat, bersinergi, berkomitmen, dan saling berkontribusi dalam hal sumberdaya (sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, serta anggaran) dalam kegiatan komersialisasi produk inovasi. Bentuk konsorsium harus mempunyai legalitas dalam Perjanjian Kerjasama (PKS).

Fokus Prioritas Pelaksanaan Program

Produk Inovasi Perguruan Tinggi yang akan mendapatkan dana pendanaan difokuskan untuk 8 (delapan) bidang fokus prioritas yang meliputi:

1. Pangan

2. Energi

3. Kesehatan dan Obat

4. Informasi dan Komunikasi

5. Transportasi

6. Pertahanan dan Keamanan

7. Material Maju

8. Maritim (Kelautan)